Thursday, September 12, 2013

Selamat ulang tahun Indranu Chandra

Saya hanya bisa berdoa, semoga engkau tumbuh menjadi laki2 yang tangguh, jujur, beriman dan berkepribadian baik. Saya juga minta beribu maaf setulusnya karena sampai detik ini belum bisa bertemu denganmu, tetapi Insya Allah suatu saat kelak kita akan bertemu. Tak banyak kata yang bisa saya tuangkan hanya
SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-7
tepat di 12 Sep. Sekali lagi maafkan saya nak... Salam sayang, Nadirin

Monday, January 21, 2013

Berapa seharusnya...

Copas from:http://j28.in Betapa berat penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana alam ini. Pastilah Tuhan mempunyai rencana sendiri terhadap peradaban #jkt atau seputaran #pluit khususnya. Dari yang tadinya tidak peduli jadi berubah menjadi lebih peduli, dari yang sombong menjadi lebih bijak dll.. SEMOGA!. Amiin. Dengan banyaknya pemberitaan ini, itu.. ternyata media masih saja banyak yang memanfaatkan objek penderitaan sebagai ladang bisnis. Walau talk-shownya maaf, bisa dibilang tidak bermutu karena pembicaranya bisa dibilang karbitan. Mencaci, menyalahkan, menghujat. Dalam bencana seperti ini yang dibutuhkan adalah eksen nyata, apa yang diperlukan masyarakat bermusibah. Banyak hal yang bisa dilakukan. Coba saja pada saat seperti ini pas kebetulah masa2 pemilu atau pilkada. Mungkin tak terjadi hal seperti ini berkepanjangan. Semua partai berlomba-lomba mengucurkan apa saja demi simpati untuk akhirnya mendulang suara. Tidak hanya mecibir soal itu, kembali ke media.. di Jepang pada saat tsunami yang begitu banyak korban, tidak pernah ditanyangkan korban meninggal, atau running text yang isinya no rekening peduli yang maaf mendidik untuk mengemis. Tetapi juga tidak 100% atau bahkan tidak 50%lah kesalahan media, masyarakatnyapun yang saya lihat banyak yang tidak tahu diri. Contoh kecil ini tidak saya ulas ketika tidak sedang banjir semua got di tutup beton, sampah semaunya begitu ada persoalan menyalahkan pemerintah. Saya lihat dengan mata saya sendiri disaat semua sedang susah, diloteng melihat orang2 berjalan dengan susah sambil tertawa2, makan dan bungkusnya begitu saja ditabur ke air (jalan). Kadang saya berpikir apa masih pantas orang2 spt ini dibela?! Semua lapar, semua susah.. tetapi bukan berarti jadi bringas begitu ada pembagian bahan makanan. Bukannya di agama mengajarkan keteraturan, kebersihan, kepedulian? Mana itu? Mosok antri saja tidak bisa, sekali lagi contoh Jepang. Mereka tidak diajarkan agama (saya tidak pernah bilang mereka tidak beragama), tetapi mereka bisa tertib. Dan dengan kelaparan bukan jalan untuk menghalalkan tindak kriminal. Satu lagi, benar kata pak gubernur, mosok sedang sama2 susah masih saja dijadikan ladang bisnis. Harga makanan yang naik sampai 300-500%, angkutan evakuasi yang semestinya gratis masih juga ada pungutan. Jadi apakah memang sudah tepat Tuhan menjatuhkan bencana ini? Ahh.. apapun itu.. mari kita berbagi untuk meringankan penderitaan para korban, minimal #pray4jkt.. Salam..