Apa begitu hinakah aku sehingga "walaupun aku mati2an tak ada apresiasi apapun itu bentuknya, terimakasih saja tidak". Kali ini aku diuji lagi mengenai ikhlas. Ngantuk, capek, lapar, lakut (karena memang aku ini terlahir takut dengan yang namanya hantu ehehhe). Itu antara lain cerita sampahnya diriku terkahir ini.
Mungkin anggapan orang melihat aku "WAH", kerja enak, dibutuhkan banyak orang, pastilah hasilnya juga "OK", akan tetapi ya itu hanyalah isapan jempol yang aku mau ga mau mesti nelan mentah dengan mengiyakan saja, daripada berargumen ga jelas.
Apakah memang kemapuanku ini belum bisa mendongkrak nilai jual diriku? Apakah aku ini masih terkesan kampungan dan yaa seperti kebanyak orang2? Terus... sebenarnya aku mampu tidak seh menyelesaikan tugas2ku, dan apakah pantas jika aku mulai berhitung dengan hal itu? dan lagi seberapa pantas mereka harus bayar aku? Ya tentunya tidak cukup dengan selembar tiket pesawat PP, selebihnya depend on me.
Kali ini keprofesionalismeku layak dipertanyakan: Sudahkah aku menjadi seorang yang profesional? Bukti? I cant describe one by one here but poeple knows that. Nah.. sekarang mo komper dengan another one because not only me. Lets say "bos maintenance", atau pendahulu saya.
Apa seh bedanya, apakah aku terlalu bodoh apabila dibandingkan dengan mereka2 sehingga dianggap yah.. gitu dah cukup lah. Masya Allah, kalau seandainya begitu. Terus harus bagaimana aku menunjukan kalau aku ini pinter dan loyal? Masih kurangkah? atau aku ini terlalu sok pinter dan sok loyal?
Ok. Aku dalam hal ini nulis seperti ini juga ada hal yang mendorong aku tuk nulis, kalau tidak kelewatan seh ya masih ditolerirlah. Tapi kalau dah muntah ya muntah saja... "tolong hargai aku yang layak sebagaimana kontribusi yang sudah aku berikan baik sisi kinerja dan loyalitas, atau... say good bye"
Mungkin anggapan orang melihat aku "WAH", kerja enak, dibutuhkan banyak orang, pastilah hasilnya juga "OK", akan tetapi ya itu hanyalah isapan jempol yang aku mau ga mau mesti nelan mentah dengan mengiyakan saja, daripada berargumen ga jelas.
Apakah memang kemapuanku ini belum bisa mendongkrak nilai jual diriku? Apakah aku ini masih terkesan kampungan dan yaa seperti kebanyak orang2? Terus... sebenarnya aku mampu tidak seh menyelesaikan tugas2ku, dan apakah pantas jika aku mulai berhitung dengan hal itu? dan lagi seberapa pantas mereka harus bayar aku? Ya tentunya tidak cukup dengan selembar tiket pesawat PP, selebihnya depend on me.
Kali ini keprofesionalismeku layak dipertanyakan: Sudahkah aku menjadi seorang yang profesional? Bukti? I cant describe one by one here but poeple knows that. Nah.. sekarang mo komper dengan another one because not only me. Lets say "bos maintenance", atau pendahulu saya.
Apa seh bedanya, apakah aku terlalu bodoh apabila dibandingkan dengan mereka2 sehingga dianggap yah.. gitu dah cukup lah. Masya Allah, kalau seandainya begitu. Terus harus bagaimana aku menunjukan kalau aku ini pinter dan loyal? Masih kurangkah? atau aku ini terlalu sok pinter dan sok loyal?
Ok. Aku dalam hal ini nulis seperti ini juga ada hal yang mendorong aku tuk nulis, kalau tidak kelewatan seh ya masih ditolerirlah. Tapi kalau dah muntah ya muntah saja... "tolong hargai aku yang layak sebagaimana kontribusi yang sudah aku berikan baik sisi kinerja dan loyalitas, atau... say good bye"
smua orang takut hantu kaleee.. bukan lo azzz...
ReplyDeletehanya orang bodoh yang belum bisa melihat seberapa berharganya nya kita untuk mereka.
"Apakah memang kemapuanku ini belum bisa mendongkrak nilai jual diriku? "
=> jika bertanya demikian[kurang bener kali ya].Dengan kemampuan kita memang bisa berdaya jual mis: kita bisa kerjain apa aja namun tidak smua orang itu bisa melihat bisa menilai itu...
Klo saya ya.. hanya berpikir bagaimana saya bisa di hargai orang dengan apa yang sudah saya lakukan. setelah bisa di hargai mulai dari sana orang2 bisa melihat kita dan bisa menghargai kita terhadap apa yang sudah kita kerjakan dan apa yang kita kerjakan pasti punya nilai jual tersendiri.
"Apakah aku ini masih terkesan kampungan dan yaa seperti kebanyak orang2?" => jika anda berpikir demikian ya itu lah anda... jika anda.
"Sudahkah aku menjadi seorang yang profesional?" => jawabannya harus anda sendiri yang jawab... harusnya SUDAH. krn jika kita sudah terjun di dunia kerjaan dan masyarakat sudah bisa menjadi orang profesional. ya profesional tidak hanya di nilai dari satu sudut pandang kan.
ha..ha.. banyak amat commentnya.. sory....
makasih:
ReplyDeleteYah mungkin aku kampungan, bodoh,malas. Mungkin sekolahku gagal (ga tau salah ndidik atau salah didikan), terus kuliah yang sedang berjalanpun sangsi (u mereka), master apaan? Master karton kaleee.....
jadi soal pernah dapat apresiasi lebih dari jaman keemasan (bisa kerja di tokyo) hanya karena kebetulan saja, dan ajakan untuk gabung ke mereka lagipun hanya karena belas kasihan saja... Mungkin.
Jadi yah... Kita lihat saja nanti. Thanks for visiting and gives a coment
"jadi soal pernah dapat apresiasi lebih dari jaman keemasan (bisa kerja di tokyo) hanya karena kebetulan saja, dan ajakan untuk gabung ke mereka lagipun hanya karena belas kasihan saja... Mungkin."
ReplyDelete=> perlu di tegasin tuh. Anda seorang yang HEBAT. itu perlu dari diri sendiri memberi penghargaan buat diri sendiri. ketika kita mulai menfonis [kyk mau di jatuhi hukuman aja "kidding"]. saya sekolahku gagal (ga tau salah ndidik atau salah didikan). itu akan mempengaruhi mental.
itu bukan sebuah kasihan ya itu krn anda hebat....