Tuesday, May 26, 2009

Statusku sebagaimana org tahu...


Biasalah kalau ngapel malmingan di-dpd, temens nanyain "gmn kabar kluarga, anak" dan spt biasanya ya aku jawab "alhmadulillah insya allah sehat". Kenapa aku mesti bohong dg keadaan yg sebenarnya, "sedih sebenarnya tiap ditanya soal kluarga, tp ya mo gimna lagi".

Mungkin saatnya ga tepat tuk terus terang, masa didepan orang banyak bilang "aku tuh sebenarnya duda" walah, abis itu dah terbayang pastilah hujan deh pertanyaan, lantas timbul gosip.

Disini sajalah:
Jujur aku juga ga menghendaki hal seperti ini, sama sekali. Apalagi aku punya anak yang bener2 aku seneng banget, ini asli bukan karena nulis di .net jadi dimanis2in :p. berbagai proses aku tempuh, namun ya... Nihil semua dan pada akhirnya jadilah tergugat.

Memang aku ga kasih nafkah baik lahir maupun bathin (kusus ini: yg bisa jawab hanya dianya), nah yang lahir saja:
jangan samakan gaji jepang dengan gaji indo palagi baru masuk kerja, itu saja status bantu2 karena daripada dikampung jadi bintang2an. Aku sisihin dari apa yang aku peroleh, walau aku sendiri ga tau hidup kaya apa, apalagi harus nanggung adiku di jakarta. Berat, berat sekali rasanya terutama soal gimana dapatin uang. Namun aku selalu sisihin bagian besar (menurut aku) untuk anak istri. Ga ada respon, bulan berikutnya aku kurangin jatahnya ya selain aku juga butuh sambil ngetes: ada kata2 tidak. Dan ternyata tidak.

Dan tibalah saat dimana hal itu moment yang bisa dibilang terakhir kali bertemu bareng seluruh kluarga dia: dibilang "mung" artinya cuma.

terus per detik itu aku putuskan tuk men-stop soal materi sama sekali, ga ada duit lagi. Percuma, aku disini bisa dibilang makan sekali sehari malah ga dianggap sama sekali sambil nunggu apakah akan ada tanggapan baik dari dia atau kluarga dia. Ternyata "tidak".

Dari 3 point tersebut lalu aku simpulkan memang aku sudah tidak dianggap lagi baik oleh dia atau keluarga dia. Usaha tuk menghubungi by phone masih aku lakukan walau ke no mertua. Tapi ya masih dapatlah kata2 "indah" akhirnya memang aku coba tuk ga kontak sesuai permintaannya "jangan pernah ... Kluargaku, aku dah ga sudi, dll dll... " banyak lah.

Aku diem, dan dia minta aku menceraikannya, tapi aku ga layani, aku masih berharap dia bisa berubah dan mau baikan lagi, tapi ya memang kemauanku lain dengan apa yang digariskan. Terkejut aku begitu berita dari desa "ada panggilan dari pengadilan agama purwokerto"

Walau senyum aku menanggapinya, sakit itu terasa sekali. Harapan waktu itu damai, karena pas bulan puasa, tapi ga ada yang namanya damai.

oktober akhir 2007, selesailah statusku yang sebenarnya. Benar2 depresi berat: kerjaan yang berjibun yang kebetulah proyek di merauke, transisi di makassar belu lagi jakarta dan kuliah. Amit2 jabang bayi, jo ngasi anak putu nemuin hal aneh kaya aku ini.
Dan kluarga aku ga tau persis kenapa bisa seperti ini, ya gimana aku mo cerita, lah aku sendiri bingung ga tau ada apa kok, mulih cuti sebulan di indo saja dicuekin kaya ga diharapkan, ya sungut2 lah... Bolak balik pwt-jakarta, lama ga ketemu ga ada yg namanya kangen2an. Boro2, wong pegang tangan saja pas liad rumah sj ditepis "ngapain sih", padahal kan tujuanku baik, takut dia jatuh, kan pakai tangga lom jadi.

kondisiku sekarang:
Ga baik2 amat, biasa saja dan masih berpikir keadaan dia dan shiiba, ini bukan pemanis, tapi aku cari info2 lewat internet. Susah tuk digantikan, karena aku selalu berpikir "anak", bayangkan coba: apabila aku beristri lagi (ada yang mau ga yah :p) aku punya keturunan lagi, shiiba kan anakku, belum tentu istri baruku nerima shiib begitu juga shiiba. taruhlah dapat orang baik, secara lahir sayang, tapi hati tetap saja anak kandung lain. Nah posisiku? Dua2nya anak kandungku... So?!
Nah...
Begitu juga dengan dia, apa suami barunya bisa jadi bapak yang baik untuk shiiba? Mau nerima shiiba selayaknya anak sendiri?

Bingung toh...

Penjelasan ini mudah2an bisa diterima oleh rekan2 apabila nanti tahu status yang sebenarnya ttg aku "kenapa aku selalu berbohong soal keluarga", dan juga kenapa aku ga ambil langkah2 seperti kebanyakan laki2, baca: cepetan cari pengganti.
apalagi dengan kondisi spt sekarang ini. Ya moga2 dengan doaku, usahaku dan jerih payahku nantinya dapat manis. rasa pahit ini aku anggap sebagai jamu, walaupun memang dari kecil pe detik ini selalu dicekoki jamu alias susah mulu. Tapi inilah proses, jalani saja, insya allah, allah telah mempersiapkan kejutan yang akan merubah semuanya. Amiin.

1 comment:

  1. kok isinya mnegumpat masalalu yaahh...

    beginihh ..
    seneng punya anak tapi gag seneng kon ngragati
    dooh jiaann dimana gembar gembor mu tentang HAK NALURI NURANI TANGGUNG JAWAB

    ngomentari yang MUNG...
    aku dikasih gag ada sparo dari biasanya dan HARUS ngopeni kelurgamu di gunung, harus mikir kuliah adimu , biaya hidup siba. sementara neeeh le gembar gembor sanggup memberi aku 10 kali lipat gaji ku . bahkan aku pun belum pernah ngrasaiin bener² dinafkahin 10 kali lipat gaji ku (LOL)

    makanyaa tuuh klo ngomong di aturrr

    ReplyDelete